Press "Enter" to skip to content

Posts tagged as “budaya jawa”

Makna yang Terkandung Pada Ritual Cuci Keris Setiap Malam 1 Suro

Makna yang Terkandung Pada Ritual Cuci Keris Setiap Malam 1 Suro
Makna yang Terkandung Pada Ritual Cuci Keris Setiap Malam 1 Suro

Keris merupakan sebuah senjata pusaka yang sangat berkaitan erat dengan tradisi budaya Jawa. Masyarakat Jawa amat menyakini bahwa senjata andalan itu memiliki aura gaib. Kepercayaan masyarakat Jawa akan hal kekuatan mistis yang ada pada benda pusaka tersebut, bisa terlihat dari kegiatan ritual yang paling poluler di tanah Jawa yang diberi nama ngumbah keris atau membersihkan keris. Ritual ini sudah menjadi tradisi masyarakat Jawa selama turun temurun dan sudah menjadi salah satu kegiatan yang sakral dan spiritual. Lalu mengapa ritual ngumbah keris ini harus dilakukan setiap pada malam 1 suro saja. Masyarakat Jawa mempercayai kalau malam 1 suro yang bertepatan dengan 1 muharram pada kalender Islam diyakini menjadi malam yang penuh keramat, malam yang penuh magis. Karena keris merupakan benda-benda pusaka juga dikeramatkan, maka dari itu agar kekuatan gaibnya bertambah maka diadakanlah ritual ngubah keris setiap malam 1 suro tersebut.

Bila diartikan secara harfiah, ritual memiliki arti suatu kegiatan yang dilaksanakan secara simbolis yang memiliki hubungan erat dengan suatu kepercayaan, tradisi dan komunitas tertentu. Dan biasanya, ritual ini amat erat kaitannya dengan kegiatan mistis atau keyakinan kuno.

Tapi dibalik itu semua ternyata ritual ngubah keris yang dilakukan setiap malam 1 suro ini justru menjadi salah satu upaya manusia untuk melakukan instopeksi diri. Disalah satu pendopo di propinsi di Yogyakarta, ada banyak puluhan orang datang berkunjung untuk melihat prosesi ngumbah keris. Para pengunjung tersebut terlihat serius mengamati seorang ahli keris yang tengah membersihkan keris dengan perasan air jeruk nipis. Menurut  Sesepuh Pemerhati Keris Kanjeng Raden Tumeggung Sumowijoyo yang mengatakan ritual ngumbah keris merupakan tradisi turun temurun yang harus dilakukan dibulan Sura. Tidak hanya keris saja yang dibersihkan pada malam tersebut melainkan benda pusaka lainnya seperti tombak pun juga dilakukan pemebersihan. Bagi bangsa Jawa benda-benda tadi bukanlah pusaka biasa karena dibuat dengan cara yang tidak biasa dan fungsinga pun bisa berbagai macam, bisa digunakan untuk simbol status, senjata dan tanda jabatan.

Tradisi ngumbah keris pada malam 1 suro  bagi rakyat Jawa memiliki nilai filosofi tersendiri. Dimana pada bulan Sura yang merupakan tahun baru pada kalender Jawa menjadi bulan yang penuh rahmat. Untuk itulah, masyarakat Jawa diharapkan dapat melakukan instropeksi diri atas perbuatan yang telah dilakukan dan ngubah keris adalah satu jalan untuk melakukannya. Membersihkan keris tidak hanya sekedar untuk mempercantik keris saja melainkan memiliki makna lain dengan melakukan ritual tersebut. Orang yang memandikan keris akan mencerminkan kesadaran pada diri seseorang bahwa membuat sebuah keris tidaklah mudah. Diperlukan doa, kesabaran, ketelitian dan sikap pantang menyerah dalam membuatnya dan hal-hal itulah yang harus dipahami kepada orang-orang yang memandikannya.

Pada keris pun memiliki banyak filosofi yang terkandung pada setiap bagian-bagiannya. Mulai pegangan keris hingga ujung keris dimana terdapat alur berliku-liku persis sama dengan kehidupan manusia. Untuk menuju satu tujuan, manusia pastinya memiliki jalan yang berliku-liku yang tidak mudah dan disaat itulah manusia harus memiliki pegangan hidup agar tidak tersesat. Dan hal tersebut terpampang jelas dalam sebuah keris.