Press "Enter" to skip to content

Posts published in “Budaya”

Pertunjukan Kesenian Wayang Orang

Pertunjukan Kesenian Wayang Orang
Pertunjukan Kesenian Wayang Orang

Pertunjukkan kesenian wayang orang merupakan salah satu seni budaya bangsa Indonesia yang paling menonjol dibandingkan dengan kesenian yang lain. Karena dalam pertunjukan wayang orang ini ada banyak kesenian yang dilibatkan, mulai dari seni peran, seni tari, seni tutur, seni sastra, seni lukis, seni pahat dan seni perlambang. Budaya wayang orang ini akhirnya berkembang secara turun temurun sebagai media penerangan, media dakwah, pendidikan, hiburan, pemahaman filsafat serta hiburan. Budaya wayang, memang selalu identik dengan budaya Jawa, selain wayang kulit, pergelaran wayang orang juga banyak diminati wisatawan karena memainkan alur-akur cerita yang kurang lebih mirip dengan pergelaran wayang kulit. Hal ini disebabkan bahwa, tradisi budaya Jawa yang masih memiliki ikatan dengan agama Hindu yang masuk ke Pulau Jawa.

Wayang orang atau dalam bahasa Jawa wayang wong merupakan salah satu jenis theater tradisional Jawa. Jenis kesenian ini pada mulanya berkembang dilingkungan keraton dan kalangan priyayi Jawa. Dalam setiap pertunjukkannya, wayang orang selalu mengambil cerita dari tokoh pewayangan Ramayanan dan Mahabrata. Menurut sejarah, kesenian wayang orang ini lahir di daerah mangkunegaran dan Yogyakarta. Tapi didalam buku “Menjadi Jawa” yang ditulis oleh Rustopo yang membahas perkembangan sejarah wayang orang, menyebutkan bahwa wayang orang dikembangkan oleh Pangeran Adipati Mangkunegaran I. Dalam buku tersebut, Rustopo juga menjelaskan bahwa keraton Yogyakarta dan Pura Mangkunegaran adalah tempat kelahiran wayang orang ketika kesusateraan Jawa mengalami masa renainssance pada abad ke 18-19.

Penyelenggaraan pertunjukan Wayang Orang secara komersial baru dimulai pada tahun 1922. Mulanya, dengan tujuan mengumpulkan dana bagi kongres kebudayaan. Kemudian pada tahun 1932, pertama kali Wayang Orang masuk dalam siaran radio, yaitu  Solosche Radio Vereeniging, yang mendapat sambutan hebat dari masyarakat.Wayang Orang juga menyebar ke Yogyakarta. Pada zaman pemerintahan Sultan Hamengku Buwana VII (1877 -1921) keraton Yogyakarta dua kali mempergelarkan pementasan Wayang Orang untuk tontonan kerabat keraton. Waktu itu lakonnya adalah Sri Suwela dan Pregiwa – Pregiwati. Wayang Orang di Yogyakarta ini disebut Wayang Wong Mataraman.

Pakaian para penari Wayang Orang pada awalnya masih amat sederhana, tidak jauh berbeda dengan pakaian adat keraton sehari-hari, hanya ditambah dengan selendang tari. Baru pada zaman Mangku­negara VI (1881-1896), penari Wayang Orang mengenakan irah-irahan terbuat dari kulit ditatah apik, kemudian disungging dengan perada.Sejalan dengan perkembangan Wayang Orang. terciptalah gerak-gerak tari baru yang diciptakan oleh para seniman pakar tari keraton. Gerak tari baru itu antara lain adalah sembahan, sabetan, lumaksono. ngombak banyu, dan srisig.

Karena ternyata kesenian Wayang Orang mendapat sambutan hangat dari masyarakat, bermun­culanlah berbagai perkumpulan Wayang Orang; mula-mula dengan status amatir, kemudian menjadi profesional. Perkumpulan Wayang orang yang cukup tua dan terkenal, di antaranya Wayang Orang  Sriwedari di Surakarta dan Ngesti Pandawa di Semarang. Wayang Orang Sriwedari merupakan kelompok budaya komersial yang pertama dalam bidang seni Wayang Orang. Didirikan tahun 1911, per­kumpulan Wayang Orang ini mengadakan pentas: secara tetap di `kebon raja’ yakni taman hiburan umum milik Keraton Kasunanan Surakarta.

Patut juga dicatat, peranan masyarakat keturunan Cina di Surakarta dan Malang yang aktif mengem­bangkan kesenian Wayang Orang. Mereka bergabung dalam perkumpulan kesenian PMS (Perkumpulan Ma­syarakat Surakarta) yang secara berkala mengadakan latihan tari dan pada waktu-waktu tertentu mengadakan pementasan untuk pengumpulan dana dan amal. Perkembangan seni Wayang Orang di Surakarta lebih bersifat populer dibandingkan di Yogyakarta. Kreasi seniman Surakarta untuk melengkapi pakaian tari Wayang Orang, mengarah pada `glamour’ dengan kemewahan tata panggung. Untuk pemeran tokoh wayang bambangan seperti Arjuna, Abimanyu, dan sejenisnya, digunakan penari wanita. Sedangkan di Yogyakarta tetap mempertahankan penari pria.